Malam gelap temani sepi
Secercah foton enggan menghampiri
Gelombang nada tiada menemani
Saat intuisi hanyalah ekspektasi
Saat kurasakan getaran cinta
Dengan kecepatan melebihi cahaya
Potensial tangga tak berdaya meluruhkannya
Mungkin ini hanya imajinasi hampa
Dunia kita ialah relativistik
Tampuk tahta bukan mekanika klasik
Tapi cintaku ini tetap deterministik
Dengan kesucian tanpa hukum probabilistik
Walau cinta ini tak bersambut
Walau luka ini sisakan takut
Namun nuraniku senantiasa terpaut
Layaknya katrol pesawat Atwood
Cinta ini takkan pernah bertepi
Seperti osilator harmonik tanpa terhenti
Semua rapi tersusun dalam hati
Bagai kristal tak cacat kisi
Akankah cinta ini kembali?
Menatap bayang indah rajutan mimpi
Ataukah khayal tetap berdiri?
Merusak angan dengan radiasi tinggi
Aku terenyuh diatas “gelombang bunyi” suaramu…
Terpaku dalam tarikan “medan magnetmu”…
Mencoba melihat dengan sebuah “lensa cekung” dari “sudut bias” mata hatiku…
Meski aku bukan “Dalton” juga bukan keluarga “Newton”…
Walau aku jauh bersaudara dari “Boyle” dan bukan pacar “Marie Currie”
Namun izinkan aku mengirim bunyi “infrasonikku” melalui pendengaran supranaturalmu…
Wahai saudara…apa yang kau perbuat ini..semua diperhitungkan sebagai pahala yang secara “relativitas” wujudnya akan semakin mutlak dinyatakan…
Penulis:
Henry Prasetyo
BNI 0179757499 atasnama henry prasetyo
Alamat : JL. Let.Sudibyo H1 No 2 Nganjuk
Fb = www.facebook.com/profesor.inuyasa
Instagram = akami.production
Contak person =085232012078
Sebagian besar orang berdasar pengalamannya menyadari bahwa otak tidak dapat menyerap informasi lagi ketika terbangun sampai larut malam atau dalam waktu yang lama. Dan tidur selama beberapa jam akan menyegarkan otak kembali. Penelitian baru oleh Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat University of Wisconsin mengklarifikasi fenomena ini, mendukung gagasan bahwa tidur memainkan peran penting pada kemampuan otak dalam beradaptasi terhadap lingkungan. Kemampuan tersebut diebut plastisitas yang merupakan inti penelitian mereka. Seperti yang dilaporkan pada versi online Nature Neuroscience, terbitan 20 Januari 2008, peneliti dari UW-Madison menunjukkan beberapa bukti bahwa sinapsis (sel saraf yang berhubungan dengan plastisitas otak) sangat kuat ketika tikus terbangun dan lemah ketika mereka tidur. Penemuan baru ini menegaskan hipotesa dari peneliti UW-Madison tentang peranan dari tidur. Mereka percaya bahwa ketika manusia tidur sinapsis memperkecil diri dan bersiap untuk hari yang ba...
Komentar